Archive / Artikel peternakan indonesia

RSS feed for this section

Artikel yang mengulas seputar dunia peternakan indonesia.

Cara Menghitung Karkas

MENGHITUNG KARKAS.

Menghitung karkas sapi, sasaran utamanya adalah berapa daging yang akan dihasilkan.

Caranya adalah sebagai berikut :
Seekor sapi akan mampu menghasilkan karkas (tulang dan daging) tanpa :

  1. Kepala dan leher,
  2. Darah,
  3. Kaki bawah,
  4. Kulit,
  5. Jeroan,

Sekitar 49 – 57% dari bobot hidup.

Semakin besar bobot hidupnya, maka persentase karkas semakin tinggi. Misal, karkas sapi bisa dapat 55%, sapi lokal (sapi Bali) yang bobot hidupnya >400 kg dan sapi Limosin dan Simental yang bobot hidupnya >600 kg. Demikian sebaliknya, sapi dengan bobot hidup rendah akan menghasilkan persentase karkas rendah juga, kurang dari 50%.

Jika kita membeli seekor sapi dengan berat badan 400 kg, maka akan memperoleh karkas sekitar 196-228 kg. Dari sejumlah ini, akan mampu dihasilkan daging tanpa tulang (boneless) sekitar 75-78% dari berat karkas atau sekitar 147-170 kg. Atau daging murni tanpa lemak 35-40% dari bobot hidupnya.

Berat daging yang diperoleh sangat tergantung pula kepada perlakuan yang diberikan oleh kita selama sapi tersebut belum dipotong. Akibat jeleknya perlakuan sebelum dipotong, biasanya dapat menurunkan (susut bobot badan) sampai dengan 5% dari bobot badannya, bahkan bisa lebih tinggi lagi. Bila kita konversikan penyusutan 5% dari bobot sapi 400 kg, sekitar 20 kg bobot hidup dengan nilai uang sebesar 20 kg x Rp 85.000,- = Rp 1.700.000,- per ekor. Nilai yang cukup besar dari penyusutan ini hilang begitu saja.

Jika ternak diperlakukan dengan baik, manfaat yang sebesar itu akan dapat dinikmati oleh banyak orang. Seandainya, kita akan membagikan kepada yang berhak menerima daging qurban per bungkus per orang seberat 1 kg daging ditambah jeroannya, maka dari seekor sapi dengan bobot badan 400 kg akan diperoleh sekitar (147-170) bungkus.

Menghitung Karkas Kambing dan Domba.

Dengan cara perhitungan yang sama, tetapi ko-efesien teknis yang berbeda, seekor domba/kambing dengan bobot hidup sekitar 40 kg (termasuk kelas A, pada Iedhul Adha), akan menghasilkan karkas sekitar 41-49% dari bobot hidupnya atau sekitar 16,4-19,6 kg. Dari sejumlah tersebut diperoleh daging (boneless) sekitar 75% dari berat karkas atau menghasilkan daging tanpa tulang sekitar 12,3-14,7 kg. Seandainya, patokan pembagian daging qurban yang digunakan daging per bungkus seberat 1 (satu) kg, maka untuk seekor domba/kambing, dengan bobot hidup sekitar 40 kg akan diperoleh daging sekitar 12-15 bungkus daging.

Teknik Menaksir Ternak

Cara penjualan ternak qurban umumnya dilakukan secara taksir bobot hidup tanpa ditimbang (Jawa : jogrok). Tidak ada patokan yang pasti. Kadangkala ada pula yang memberikan dengan harga timbang hidup. Untuk ini, harus dipertanyakan kapan dan di mana ditimbangnya. Sebab, selama proses penjualan ternak tersebut akan terjadi penyusutan, yang dapat mencapai lebih dari 10%.

Bagi orang awam sangat sulit menentukan tepatnya bobot hidup berdasarkan nilai taksir “jogrok”. Hanya pelaku pedagang sapi potong yang sudah berpengalaman yang mampu menaksir bobot hidup secara “jogrok”. Untuk mengetahui berapa berat sebenarnya ternak yang kita beli, tidak ada jalan lain kecuali harus ditimbang. Kita dapat memperolehnya pada perusahaan peternakan atau pedagang yang menjual ternak qurban dengan timbangan hidup. Cara ini lebih menjamin konsumen, sehingga kita dapat memperkirakan berapa daging yang akan dihasilkan dari ternak yang dipotong.

Dengan memperoleh angka taksiran bobot hidup, maka persentase karkas dan daging dapat segera diketahui. Karkas sapi berkisar 47-57% dari bobot hidupnya dan daging 75-78% dari karkas.

Artikel Ditulis Oleh Ilham Akhmadi – CEO BAFE

Melirik Keuntungan Bisnis Ternak Sapi Potong

Indonesia memiliki populasi penduduk terbesar keempat di dunia. Indonesia menduduki peringkat dibawah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Tingginya jumlah penduduk di Indonesia diikuti dengan tingginya konsumsi daging sapi di Indonesia. Di beberapa waktu tertentu seperti pada hari raya, permintaan daging sapi di Indonesia terus meningkat. Inilah yang membuat usaha peternakan sapi di Indonesia perlu dikembangkan agar bias memenuhi permintaan daging sapi.

Tahukah Anda, bahwa sampai sekarang ini suplai daging sapi di Indonesia masih sangat kurang. Negara harus mengimpor daging sapi dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan daging sapi di Indonesia. Sehingga, bias dikatakan bahwa usaha ternak sapi potong menjadi salah satu usaha yang sangat menggiurkan di Indonesia dan sayang jika dilewatkan. Usaha ternak sapi potong dinilai mampu memberikan kontribusi pada roda perekonomian bangsa.

Sekarang ini, cukup banyak masyarakat yang mumlai mengembangkan program usaha ternak sapi skala rumahan. Program ini terbukti mampu memberikan perubahan yang berarti bagi para peternak. Apabila usaha ternak sapi potong ini dikerjakan dengan benar – benar serius, maka nantinya usaha ini akan membawakan keuntungan yang maksimal bagi para pengusaha.

Sekarang ini, daerah yang sudah menerapkan system budi daya sapi berskala rumah tangga adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan daerah Indonesia dibagian timur. Pemerintah menganggap bahwa penerapan system budi daya ternak sapi berskala rumah tangga ini tidak hanya akan mendorong laju pertumbuhan sapi potong dalam negeri, namun juga akan memberikan pendapatan hingga berlipat – lipat pada para peternak.

Dilihat dari sisi ekonomi, usaha ternak sapi potong kelas rumahan tidak memakan biayan yang sangat besar. Biaya pembuatan kandang dan biaya pemeliharaannya dinilai sangat murah. Karena skalanya masih skala rumahan (kecil), maka kandangnya bisa dibangun dengan bentuk tunggal. Untuk masalah pakan dan pemeliharaannya pun juga demikian.

Biasanya, ada berbagai lembaga yang akan memberikan pelatihan khusus mengenai bisnis ternak sapi potong dalam skala besar. Ilmu pengetahuan seputar peternakan akan diberikan pada para pemula. Misalnya cara memilih bibit sapi potong yang baik, pembangunan kandang, pemilihan lahan, dan lain sebagainya. Sehingga, kualitas daging sapi potong yang akan dihasilkan nanti memiliki kualitas yang bagus.

Keuntungan dari bisnis ternak sapi sendiri sebesar empat juta rupiah (Rp. 4.000.000) sampai dengan lima juta rupiah (Rp. 5.000.000) tiap sapi dengan tempo ± empat bulan. Anggap saja dalam satu rumah tangga, ada tiga ekor sapi yang dibudidayakan. Maka keuntungan yang didapat tentu juga akan meningkat. Apalagi jika hari raya tiba seperti Idul Adha, Natal, dan Idul Fitri. Hitungan ini adalah untuk skala rumahan (kecil). Apabila peternak sudah berhasil sukses dengan skala rumahan, ia bisa melanjutkan ke skala yang lebih besar dengan keuntungan yang lebih menjanjikan pula.

Berbagai sumber.

Butuh sapi potong untuk qurban ? Hubungi contact person BAFE.

Memilih Hewan Qurban yang Tepat

Hari Raya Idhul Adha menjadi salah satu hari raya yang ditunggu – tunggu oleh kaum Muslim. Banyak lapak penjualan hewan ternak sapi dan kambing dibuka di pinggir jalan. Ternak dengan performa yang bagus dipamerkan dengan harapan mampu menarik minat pembeli. Sebelum Anda membeli hewan qurban, penting halnya untuk memperhatikan beberapa hal yang penting terkait hewan qurban.

Anda pasti ingin memberikan hewan qurban terbaik. Apabila Anda memberikan hewan qurban terbaik, maka amalan yang akan diterima juga adalah amalan terbaik. Berikut ini adalah tips yang bisa dilakukan ketika Anda akan memilih hewan qurban.

  1. Memastikan umur hewan qurban sudah sesuai dengan kriteria

Ini menjadi salah satu hal yang perlu diperiksa jika Anda akan membeli hewan qurban. Apabila Anda membeli sapi atau kerbau, pilihlah yang masih berusia 22 bulan. Sedangkan jika Anda membeli domba atau kambing, pilihlah yang masih berusia 12 – 18 bulan. Cara yang paling mudah untuk mengetahui usia hewan ternak adalah dengan melihat giginya. Jika gigi susu (bagian depan) sudah lepas atau tanggal, maka hewan ini berusia 12 – 18 bulan untuk domba atau kambing, dan 22 bulan untuk sapi atau kerbau.

  1. Melakukan pemeriksaan fisik

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk memeriksa kesehatan hewan qurban adalah dengan memeriksa kesehatan fisiknya. Tidak usah takut untuk memeriksa fisik hewan qurban mulai dari lubang hidung, mulut, bulu, telinga, mata, bahkan lubang anus. Indikasi hewan qurban yang sehat adalah tidak mengeluarkan lendir (cairan) dan darah. Pastikan pula hewan qurban tidak dalam keadaan sakit seperti demam, gangguan makan, dan lain sebagainya.

  1. Memperhatikan matanya

Mata hewan qurban yang baik dan sehat adalah mata yang jernih, terbuka dengan lebar atau terbuka penuh, reaksi pupil cepat, tidak mengeluarkan air, dan warna dari selaput lendir adalah merah. Letak dari selaput lendir ada di kelopak mata bagian dalam. Apabila Anda melihat mata hewan qurban keruh, ini menandakan hewan tersebut sedang sakit.

  1. Pergerakan

Hewan qurban yang aktif menandakan hewan qurban yang sehat. Aktif disini bukan berarti bergerak atau beraktivitas dengan berlebihan. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menilai keaktifan hewan tersebut adalah dengan mendekatinya. Apabila hewan tersebut bereaksi dengan lincah, dan jalan tidak pincang, maka ia memiliki keaktifan yang baik dan tidak sakit.

  1. Mempunyai tubuh yang standar

Tubuh yang standar (tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil) menandakan bahwa hewan qurban diberi asupan yang cukup. Kriterianya adalah mempunya tanduk yang seimbang, empat kaki yang simetris, dan postur tubuh ideal. Postur tubuh ideal disini yaitu paduan antara kaki depan dan belakang, kepala, leher, dan perut yang seimbang.

Artikel dihimpun dari berbagai sumber.
Ingin membeli sapi untuk kurban, silahkan hubungi contact person BAFE.

Pemanfaatan Rumput Odot Untuk Pakan Ternak

Menyediakan pakan untuk ternak menjadi salah satu hal yang wajib untuk dilakukan setiap peternak. Salah satu jenis rumput yang sering digunakan sebagai pakan ternak adalah Rumput Odot atau Pennisetum Purerium. Rumput yang satu ini mungkin jarang didengar di masyarakat. Namun, khasiat dari rumput ini tidak boleh disepelekan. Hal ini dikarenakan potensi yang diberikan oleh rumput odot sangaatlah tinggi untuk ternak seperti kambing, sapi, domba, dan hewan ternak lainnya. Di zaman yang semakin modern ini, banyak peternak yang mulai membudidayakan Rumput Odot sebagai pakan ternak. Umumnya, tinggi dari rumput odot hanya sekitar satu meter saja. Banyak orang yang berpikir bahwa rumput odot dan rumput gajah merupakan jenis rumput yang sama. Perlu diketahui bahwa kedua jenis rumput ini adalah berbeda.

Rumput gajah bisa mencapai ketinggian 4,5 meter. Tidak dengan rumput odot. Bagi Anda yang pernah melihat daun pandan, maka begitulah visual dari rumput odot. Daunnya rapat dan panjang. Sehingga, rumput odot dinilai sebagai salah satu jenis rumput yang sangat efisien dan efektif untuk ditanam disuatu lahan.

Beberapa peneliti dari IPB melakukan sejumlah penelitian terhadap rumput odot ini. Terbukti bahwa setiap hektarnya, bisa dihasilkan 60 ton lebih rumput odot. Apabila panen baru dilakukan pertama kali, maka biasanya terjadi sekitar tiga sampai empat bulan. Untuk panen selanjutnya, biasanya berkisar antara lima puluh sampai enam puluh hari. Peternak bisa menyimpan rumput odot sampai tiga hari lamanya. Tidak memerlukan perlakuan khusus agar rumput bisa tetap segar. Ternak masih akan lahap untuk makan rumput odot yang sudah disimpan selama tiga hari lamanya.

Ciri – ciri yang terlihat dari rumput odot adalah:

  1. Memiliki tunas (rhizoma) dan berumpun
  2. Batang dan daunnya tidak berbulus dan halus
  3. Laju pertumbuhannya bisa dikatakan cepat. Inilah yang membuat rumput odot sering disamakan dengan rumput gajah
  4. Akarnya dalam dan sangat kuat
  5. Batang dan daunnya lembut, sehingga bisa dimakan ternak dengan sangat mudah. Peternak tidak perlu mencacah atau menghaluskan rumput odot saat akan diberikan pada ternak.
  6. Kadar airnya cukup tinggi yaitu 80%. Ini membuat ternak terhindar dari dehidrasi saat diberi pakan rumput odot.

Apabila Anda tertarik untuk menanam rumput odot, maka diperlukan kehati – hatian dan ketelitian tingkat tinggi saat memilih bibit rumput odot. Jangan sampai bibit yang Anda pilih merupakan bibit dengan kualitas rendah, dan justru membuat peternak jadi rugi. Berikut ini adalah kriteria bibit unggul yang bisa dipilih:

  1. Memiliki batang yang halus, besar, dan juga tidak berbulu sama sekali
  2. Panjang stek setidaknya 20 cm
  3. Bibit bewarna hijau kekuningan
  4. Usianya tidak terlalu muda
Berbagai sumber.

Pemilihan Lahan yang Baik Untuk Peternakan Sapi

Ketika seseorang akan memulai bisnis di bidang ternak sapi, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan terlebih dahulu. Tidak hanya bakalan sapi dan modalnya saja. Pemilihan lahan untuk peternakan juga perlu diperhatikan agar menghasilkan manfaat yang maksimal. Beberapa pihak yang membutuhkan dan diperlukan akan semakin dipermudah aksesnya menuju peternakan Anda. Berikut ini adalah ulasan mengenai pemilihan lahan yang baik untuk peternakan sapi.

Hal pertama yang harus menjadi perhatian adalah tingkat kesehatan dari lahan tersebut. Jangan memilih lahan yang sudah terbukti bermasalah. Hal ini hanya akan membuat Anda mengalami berbagai kesulitan nantinya. Misalnya, lahan tersebut sebelumnya adalah daerah endemi penyakit, tempat pembuangan akhir (TPA), dan lokasi pembuangan limbah beracun. Walaupun kawasan tersebut sudah terbukti aman sekarang, lebih baik mencari lahan lain yang dinilai lebih aman dan memiliki sejarah yang baik.

Hal kedua yang harus menjadi perhatian adalah letaknya dengan sumber air. Penting halnya untuk memilih lahan peternakan yang berdekatan dengan sumber air bersih. Ini bertujuan untuk mempermudah ternak mendapatkan air bersih. Air bersih disini tidak hanya untuk minum saja. Namun juga untuk kepentingan sanitasi, mandi sapi, dan pembersihan kandang. Apabila letak lahan peternakan jauh dari air bersih, maka banyak aktivitas akan terhambat kelancarannya. Letak lahan peternakan yang baik bisa di dekat sungai atau danau.

Hal ketiga yang harus menjadi perhatian adalah lahan tidak berdekatan dengan pemukiman penduduk. Asupan makanan yang diperlukan oleh sapi sangat banyak. Inilah yang akan membuat sapi memproduksi kotoran yang sangat banyak pula. Apabila Anda tidak memperhatikan kebersihan dari lahan untuk peternakan, maka bau dari kotoran sapi akan sangat menyengat. Ini tentu akan membuat masyarakat sekitar terusik kenyamanannya. Jangan sampai, masyarakat memprotes lahan peternakan akibat aromanya yang sangat menyengat. Ini besar kemungkinan peternakan Anda akan digusur. Lebih baik jika Anda mencari lahan yang jauh dari pemukiman masyarakat.

Hal keempat yang harus menjadi perhatian adalah mencari lahan yang letaknya dekat dengan lahan hijau. Ketika Anda tidak memiliki lahan sendiri untuk menanam rumput, maka Anda harus mengandalkan lahan hijau di lingkungan sekitar. Jika letak lahan peternakan dekat dengan lahan hijau, maka proses penyediaan pakan bisa dipermudah. Ada banyak jenis rumput yang bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak sapi seperti rumput kolonjono, rumput gajah, daun tebu, alang – alang, jerami padi, dan daun jagung.

Hal kelima yang harus menjadi perhatian adalah berdekatan dengan sentra penjualan sapi. Ini akan mempermudah Anda untuk menjual ternak sapi. Selain itu, berbagai informasi penting terbaru juga akan lebih mudah didapatkan. Sehingga, akses pemasaran dan jaringan yang dibangun bisa lebih baik dan mampu membuat peternakan Anda menjadi sukses.

Berbagai sumber.

Ulasan Mengenai Pemberian Pakan Pada Ternak Sapi

Bhumi Andhini.com Di Indonesia, ada sudah ada banyak peternakan sapi yang bertujuan untuk diambil dagingnya dan dikonsumsi. Sapi PO atau yang juga dikenal dengan sapi peranakan ongole menjadi salah satu jenis sapi yang sangat terkenal di Indonesia. Agar ternak sapi bisa mendapatkan berat badan yang ideal dengan kualitas yang baik, diperlukan pakan dengan kualitas maksimal pula. Tidak hanya sapi berusia produktif saja yang memerlukan makanan berkualitas, namun juga sapi yang sudah tua. Kualitas yang baik juga harus diimbangi dengan kuantitas yang pas. Apabila ternak sapi terlalu banyak diberi pakan, maka ini akan membuat terjadinya penimbunan lemak.

Ada berbagai macam jenis caara pemberian pakan pada ternak sapi potong. Yaitu dengan Dry Lot Fattening (Kereman), Pasture Fattening (Penggembalaan), dan gabungan dari kedua cara ini. Cara penggembalaan menjadi salah satu cara yang paling sederhana untuk memberikan pakan pada sapi. Metode yang satu ini dilakukan dengan cara membiarkan sapi mencari makan di padang rumput dengan bebas. Apabila Anda memutuskan untuk memberikan pakan sapi dengan cara yang penggembalaan, maka Anda memerlukan waktu selama lima sampai tujuh jam setiap harinya. Metode penggembalaan tidak memerlukan ransum tambahan. Hal ini dikarenakan sapi mengkonsumsi berbagai macam jenis rumput – rumputan.

Peternak juga bisa memberikan sapi makan dengan dijatah. Hal ini dikenal dengan metode kereman. Pakan sapi bisa diperoleh dari sawah, ladang, dan lain sebagainya. Diperlukan pakan sebanyak 10% dari bobot sapi ditambah ransum sebanyak 2% dari bobot sapi. Penting halnya untuk menambahkan ransum ketika peternak memilih metode kereman. Ransum bisa diibuat oleh peternak sendiri. Bahan – bahan yang diperlukan untuk membuat ransum adalah bungkil kelapa, dedak halus (bekatul), ampas tahu, dan gaplek. Peternak hanya perlu mencampur semua bahan ini kedalam tempat pakan dari ternak.

Banyak pihak yang menyebutkan bahwa metode yang paling baik adalah menggabungkan keduanya. Hal ini bertujuan agar ternak sapi terlatih untuk tidak bergantung pada pakan yang sering diberikan di dalam kandang. Apabila ditinjau dari keadaannya, maka hijauan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu silase, hijauan kering, dan hijauan segar.

Hijauan kering bermula dari hijauan yang dikeringkan terlebih dahulu. Pengeringan ini bertujuan agar rumput bisa disimpan dalam jangka waktu yang lama. Hijauan kering disini juga bisa didapatkan dari jerami kacang tanah, jerami padi, jerami jagung, dan lain sebagainya. Serat kasar banyak terkandung dalam hijauan kering.

Hijauan segar disini bisa diawerkan agar menjadi silase. Hijauan segar harus ditutup dengan sangat rapat. Hal ini bertujuan agar proses fermentasi bisa berjalan dengan lancar. Setelah rumput sudah mengalami fermentasi, maka rumput sudah berubah menjadi silase. Banyak peternak yang menggunakan silase jerami padi, silase rumput, dan silase jagung.

Sedangkan hijauan segar bisa didapatkan dari kacang – kacangan, rumput – rumputan, dan berbagai macam tanaman hijau lainnya. Untuk mendapatkan kualitas terbaik, Anda bisa menggunakan rumput raja (king grass), rumput gajah, daun lamtoro, dan daun turi.

Berbagai sumber.

Penyakit Ngorok Pada Ternak Sapi

BhumiAndhini.com Penyakit menjadi salah satu kondisi dimana ada sesuatu yang salah dalam tubuh makhluk hidup. Ada metabolisme yang berjalan tidak sesuai dengan yang seharusnya. Ada berbagai macam hal yang mampu menyebabkan makhluk hidup terkena penyakit. Kali ini, makhluk hidup yang dibahas adalah ternak sapi. Ketika ternak sapi mengalami penyakit, maka ini akan membuat kerugian tersendiri pada peternak. Misalnya ternak menjadi mati, berat badannya menurun dengan sangat drastis, dan lain sebagainya. Berikut ini adalah salah satu jenis penyakit yang cukup ditakuti oleh para peternak yaitu penyakit ngorok.

Dalam bahasa ilmiah, penyakit ngorok juga dikenal dengan Septicemia apizootica (SE). Penyakit ini mampu membuat ternak mengalami kematian. Sifat dari penyakit ngorok atau Septicemia apizootica (SE) adalah akut. Ketika ternak sapi sudah menunjukkan terserang gejala penyakit ngorok atau Septicemia apizootica (SE), maka peternak harus segera memberikan penanganan secara dini. Apabila tidak, maka sapi akan mengalami kematian. Ternak disini tidak hanya ternak sapi saja, namun juga ternak kerbau, kambing, kuda, dan domba.

Penyebab dari penyakit ngorok atau Septicemia apizootica (SE) adalah karena adanya bakteri yang dikenal dengan Pasteurella Multcida. Apabila salah satu ternak sapi sudah terserang penyakit ini, maka ternak sapi ini harus dipisahkan dari ternak yang lain. Hal ini dikarenakan penyakit ini adalah salah satu jenis penyakit yang menular. Penularan penyakit ngorok atau Septicemia apizootica (SE) bisa lewat kontak langsung, adanya kontaminasi bakteri pada makanan, minuman, dan berbagai macam alat peternakan.

Gejala dari ternak sapi yang terserang penyakit ngorok atau Septicemia apizootica (SE) adalah

  1. tubuh ternak menjadi sangat gemetar
  2. mengalami demam yang sangat tinggi sehingga ternak sapi terlihat lesu dan lelah
  3. adanya pembengkakan di beberapa bagian tertentu seperti tenggorokan, kepala, kaki, leher, dan bawah gelambir
  4. Kotoran ternak atau feses akan menjadi sedikit cair. Tidak hanya itu, seringkali feses juga disertai dengan darah.
  5. Ternak menjadi sulit bernapas ketika adanya pembengkakan pada beberapa bagian tubuh tersebut. Ketika ternak mengalami kesulitan untuk bernapas, maka suara napasnya akan terdengar seperti ngorok. Inilah yang menyebabkan penyakit ini disebut penyakit ngorok atau Septicemia apizootica (SE).

Pengobatan dan pencegahan yang bisa dilakukan terhadap penyakit ngorok atau Septicemia apizootica (SE) adalah

  1. Menghubungi dokter hewan atau petugas peternakan apabila ditemukan adanya ternak sapi yang mengalami gejala ini.
  2. Memisahakn ternak yang sehat dari ternak yang sakit. Dengan begitu, gejala oenyakit ngorok atau Septicemia apizootica (SE) tidak akan menyebar ke ternak yang masih sehat.
  3. Melakukan vaksinasi dengan teratur pada ternak sapi
  4. Memberikan antibiotik dan obat dengan dosis tertentu agar ternak bisa cepat sembuh
Berbagai sumber.

Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis Pada Ternak

BhumiAndhini.com Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis atau yang bisa disingkat dengan IBR menajdi salah satu penyakit pada ternak sapi yang bisa menular. Penyakit yang satu ini membuat sistem reproduksi sapi jadi terganggu. Infeksi diduga menjadi dalang dari penyakit yang satu ini. Apabila ternak sapi terkena Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis, maka ternak akan mengalami penurunan fertilitas, kemajiran ternak, dan keguguran. Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis disebabkan oleh Bovine herpesvirus-1 (BHV-1). Ada berbagai macam gejala yang muncul apabila sapi terserang penyakit yang satu ini seperti ensefalitis, konjungtivitis, lesu, dan demam. Gejala ini muncul pada sapi jantan. Sedangkan pada sapi betina, maka akan mengalami keguguran, menurunnya tingkat fertilitas, dan penurunan produksi susu.

Biasanya ternak sudah menunjukkan gejala terkena Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis. Apabila gejala ini ditindaklanjuti dengan lebih awal dan lebih cepat, maka ternak bisa sembuh dari Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis. Sayangnya, banyak peternak yang sering mengabaikan gejala – gejala tersebut. Mereka menganggap bahwa itu hanya penyakit biasa. Gejala pada umumnya yang menunjukkan bahwa ternak sapi menderita Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis adalah adanya gangguan pada sistem pernapasan. Ternak akan sering mengalami batuk – batuk, demam dengan suhu yang sangat tinggi bahkan mencapai 42 derajat celcius, produksi susu mengalami penurunan, berat badan sapi menurun drastis, dan terjadinya aborsi. Ketika sapi sudah sakit, biasanya mereka enggan untuk makan. Apabila peternak tidak meninjau lebih lanjut akan hal ini, tentu saja menjadi hal yang sangat berbahaya. Sapi tidak akan memiliki tenaga untuk melawan Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis.

Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis merupakan salah satu jenis penyakit yang menular. Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis bisa ditularkan lewat saluran pernapasan dan semen. Virus penyakit ini terletak sangat banyak pada saluran pernapasan. Apabila ternak sapi yang sudah terkena Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis mengalami kontak langsung dengan ternak sapi yang sehat, bisa dipastikan ternak sapi yang sehat ini akan tertular. Apabila peternak membuka peternakan penggemukan sapi, maka penyebaran virus akan semakin cepat terjadi. Hal ini dikarenakan pada kandang sapi penggemukan, badan ternak sapi satu sama lain akan bersenggolan. Tidak hanya itu, ternak juga bercampur menjadi satu. Inilah yang membuat penyebaran virus menjadi lebih efektif pada ternak sapi penggemukan.

Diagnosis Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis bisa dilakukan dengan beberapa teknik. Seperti Uji serologi, isolasi virus, teknik immunoassay, dan teknik molekuler biologi. Peternak bebas memilih teknik yang akan digunakan untuk mendeteksi Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis.

Untuk cara pencegahan yang bisa dilakukan agar ternak sapi tidak terkena Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis adalah dengan melakukan vaksinasi pada ternak sapi. Berikan vaksin setiap satu tahun sekali. Sedangkan untuk mengobati ternak sapi yang sudah terinfeksi Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis adalah dengan memberikanvitamin, cairan elektrolit, dan antibiotika spectrum luas.

Berbagai sumber.

Penyakit Bovine Viral Diarreha Pada Ternak Sapi

BhumiAndhini.com Memiliki ternak sapi yang sehat tentu menjadi idaman para peternak di dunia. Apalagi jika sapi tersebut merupakan sapi yang produktif. Peternak tidak perlu mengeluarkan biaya lebih untuk melakukan pengobatan bagi sapi yang sakit. Tidak hanya itu, pemasukan juga tidak akan terganggu apabila seluruh ternaknya memiliki kondisi yang sehat dan produktif. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa di dunia ini terdapat berbagai macam bakteri dan virus yang ada di sekitar ternak. Ada yang bisa langsung mati dengan diberi obat, namun ada juga yang harus diberi berbagai macam asupan dan perlakuan agar bakteri dan virus tersebut bisa mati.

Ada berbagai macam penyakit yang mengancam kesehatan ternak sapi. Salah satunya adalah penyakit Bovine Viral Diarreha (BVD). Penyakit yang satu ini merupakan salah satu penyakit yang dihindari peternak, karena menyerang sapi yang berusia produktif atau sapi muda. Berikut ini adalah berbagai gejala yang dialami oleh ternak sapi yang terserang Bovine Viral Diarreha (BVD).

Sapi yang terserang Bovine Viral Diarreha (BVD) akan mengalami demam dengan suhu yang sangat tinggi, adanya cairan disekitar hidung dan mulut yang berwarna putih, sapi terlihat sangat lemah sehingga tidak mampu melakukan apapun, depresi, adanya penurunan berat badan yang sangat signifikan pada sapi potong, pernapasan menjadi tidak teratur, denyut jantung menjadi meningkat, apabila menyerang sapi yang hamil maka akan terjadi aborsi, apabila menyerang sapi perah maka produksi susu akan berkurang, adanya kerusakan jaringan pada sapi, ternak terkena diare diikuti bau yang sangat busuk, kotoran bercampur darah, dan apabila sudah sangat parah maka akan membawa sapi pada kematian.

Bisa dikatakan gejala yang muncul pada sapi yang terserang Bovine Viral Diarreha (BVD) harus diwaspadai. Karena, ada beberapa gejala yang menyerupai dengan gejala penyakit lainnya. Apabila ternak salah didiagnosa, maka pengobatan yang diberikan juga tidak akan sesuai. Apabila pengobatan yang diberikan tidak sesuai dengan penyakit yang diderita oleh sapi, maka akan membuat ternak sapi mengalami kematian. Pencegahan dan pengobatan bisa dilakukan bagi sapi yang belum terkena Bovine Viral Diarreha (BVD) maupun sapi yang sudah terkena Bovine Viral Diarreha (BVD).

Penyakit Bovine Viral Diarreha (BVD) merupakan salah satu penyakit yang diakibatkan oleh virus. Hal inilah yang membuat pengobatan hanya memiliki sifat supportif untuk meminimalisir gejala klinis. Sapi yang sudah terserang penyakit Bovine Viral Diarreha (BVD) harus diberi vaksin indaktif setiap satu tahun sekali.

Pencegahan yang bisa dilakukan untuk sapi yang belum terserang penyakit Bovine Viral Diarreha (BVD) adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan serta pangan pada ternak sapi. Ini akan meminimalisir penyebaran virus yang membuat ternak sapi menderita penyakit Bovine Viral Diarreha (BVD).

Berbagai sumber.

Penyakit Brucellosis Yang Menyerang Sapi

Bagi para peternak yang memelihara sapi bunting atau sapi indukan, pasti berharap agar anak sapi bisa lahir dengan normal dan sehat. Tidak ada peternak yang mengharapkan anak sapi lahir dengan lemah akibat terserang suatu penyakit. Saat ini, penyakit yang memiliki keterkaitan dengan sapi bunting ialah Penyakit Brucellosis atau keguguran pada sapi.

Penyakit Brucellosis disebabkan oleh bakteri Brucella. Bakteri ini sebenarnya bisa terbunuh hanya dengan terpapar sinar matahari. Namun, apabila sapi jarang atau tidak pernah dijemur, maka bakteri Brucella ini akan bertahan selama enam bulan lamannya.

Berbagai gejala dari Penyakit Brucellosis ialah keguguran pada sapi betina, adanya pembengkakan pada scrotum untuk sapi jantan, nafsu makan yang berubah drastis, dan beberapa gejala lain yang tidak terlihat mencolok. Anak sapi yang gugur biasanya akan mati dan memiliki warna biru kecokelatan. Sedangkan anak sapi yang berhasil lahir akan tetap hidup. Hanya saja, mereka tidak berkembang dengan baik seperti anak sapi normal pada umumnya.

Penyakit ini rupanya bisa menular pada manusia. Apabila Anda mengkonsumsi berbagai produk hewan sapi yang terjangkit Penyakit Brucellosis, maka Anda juga akan terkena penyakit yang satu ini. Untuk kaum pria, maka akan mengakibatkan radang testis, kemandulan, dan radang sendi. Sedangkan untuk kaum wanita akan mengakibatkan abortus.

Untuk penularan pada sesama ternak, lewat perkawinan. Ada beberapa sapi yang tidak akan menunjukkan gejala – gejala jika terkena Penyakit Brucellosis. Inilah yang membuat para peternak dengan mudah mengawinkan sapi yang sudah terinfeksi Penyakit Brucellosis dengan sapi yang sehat. Sumber infeksi Penyakit Brucellosis pada sapi ialah cairan fetus. Cairan ini merupakan cairan sisa sapi betina setelah melahirkan. Bakteri akan masuk ke dalam sapi lewat kulit yang sudah terluka, oral, kongenital, dan inhalasi.

Ada berbagai pencegahan yang bisa dilakukan agar ternak tidak terkena Penyakit Brucellosis. Berikut ini adalah tipsnya:

  1. Memilih produk hewani yang benar – benar terjamin kualitasnya dan higienis. Misalnya susu yang sudah dipasteurisasi. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir kemungkinan bakteri jahat masuk dalam tubuh konsumen.
  2. Memisahkan ternak yang sudah terserang Penyakit Brucellosis dengan ternak yang sehat. Apabila ada kejadian fetus, membran fetus, dan abortus, maka peternak harus mengirim sapi pada laboratorium. Selanjutnya, semua peralatan yang sudah digunakan untuk sapi yang terserang Penyakit Brucellosis harus dibakar dan dimusnahkan. Sedangkan tempat yang sudah terkena Penyakit Brucellosis, harrus didesinfeksi.
  3. Memberikan vaksin pada mereka yang rawan tertular Penyakit Brucellosis, seperti pekerja RPH, peternak, bahkan dokter hewan. Penyakit Brucellosis tidak memandang jenis pekerjaan seseorang.
Berbagai sumber.