Archive / May, 2017

Ulasan Mengenai Pemberian Pakan Pada Ternak Sapi

Bhumi Andhini.com Di Indonesia, ada sudah ada banyak peternakan sapi yang bertujuan untuk diambil dagingnya dan dikonsumsi. Sapi PO atau yang juga dikenal dengan sapi peranakan ongole menjadi salah satu jenis sapi yang sangat terkenal di Indonesia. Agar ternak sapi bisa mendapatkan berat badan yang ideal dengan kualitas yang baik, diperlukan pakan dengan kualitas maksimal pula. Tidak hanya sapi berusia produktif saja yang memerlukan makanan berkualitas, namun juga sapi yang sudah tua. Kualitas yang baik juga harus diimbangi dengan kuantitas yang pas. Apabila ternak sapi terlalu banyak diberi pakan, maka ini akan membuat terjadinya penimbunan lemak.

Ada berbagai macam jenis caara pemberian pakan pada ternak sapi potong. Yaitu dengan Dry Lot Fattening (Kereman), Pasture Fattening (Penggembalaan), dan gabungan dari kedua cara ini. Cara penggembalaan menjadi salah satu cara yang paling sederhana untuk memberikan pakan pada sapi. Metode yang satu ini dilakukan dengan cara membiarkan sapi mencari makan di padang rumput dengan bebas. Apabila Anda memutuskan untuk memberikan pakan sapi dengan cara yang penggembalaan, maka Anda memerlukan waktu selama lima sampai tujuh jam setiap harinya. Metode penggembalaan tidak memerlukan ransum tambahan. Hal ini dikarenakan sapi mengkonsumsi berbagai macam jenis rumput – rumputan.

Peternak juga bisa memberikan sapi makan dengan dijatah. Hal ini dikenal dengan metode kereman. Pakan sapi bisa diperoleh dari sawah, ladang, dan lain sebagainya. Diperlukan pakan sebanyak 10% dari bobot sapi ditambah ransum sebanyak 2% dari bobot sapi. Penting halnya untuk menambahkan ransum ketika peternak memilih metode kereman. Ransum bisa diibuat oleh peternak sendiri. Bahan – bahan yang diperlukan untuk membuat ransum adalah bungkil kelapa, dedak halus (bekatul), ampas tahu, dan gaplek. Peternak hanya perlu mencampur semua bahan ini kedalam tempat pakan dari ternak.

Banyak pihak yang menyebutkan bahwa metode yang paling baik adalah menggabungkan keduanya. Hal ini bertujuan agar ternak sapi terlatih untuk tidak bergantung pada pakan yang sering diberikan di dalam kandang. Apabila ditinjau dari keadaannya, maka hijauan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu silase, hijauan kering, dan hijauan segar.

Hijauan kering bermula dari hijauan yang dikeringkan terlebih dahulu. Pengeringan ini bertujuan agar rumput bisa disimpan dalam jangka waktu yang lama. Hijauan kering disini juga bisa didapatkan dari jerami kacang tanah, jerami padi, jerami jagung, dan lain sebagainya. Serat kasar banyak terkandung dalam hijauan kering.

Hijauan segar disini bisa diawerkan agar menjadi silase. Hijauan segar harus ditutup dengan sangat rapat. Hal ini bertujuan agar proses fermentasi bisa berjalan dengan lancar. Setelah rumput sudah mengalami fermentasi, maka rumput sudah berubah menjadi silase. Banyak peternak yang menggunakan silase jerami padi, silase rumput, dan silase jagung.

Sedangkan hijauan segar bisa didapatkan dari kacang – kacangan, rumput – rumputan, dan berbagai macam tanaman hijau lainnya. Untuk mendapatkan kualitas terbaik, Anda bisa menggunakan rumput raja (king grass), rumput gajah, daun lamtoro, dan daun turi.

Berbagai sumber.

Penyakit Ngorok Pada Ternak Sapi

BhumiAndhini.com Penyakit menjadi salah satu kondisi dimana ada sesuatu yang salah dalam tubuh makhluk hidup. Ada metabolisme yang berjalan tidak sesuai dengan yang seharusnya. Ada berbagai macam hal yang mampu menyebabkan makhluk hidup terkena penyakit. Kali ini, makhluk hidup yang dibahas adalah ternak sapi. Ketika ternak sapi mengalami penyakit, maka ini akan membuat kerugian tersendiri pada peternak. Misalnya ternak menjadi mati, berat badannya menurun dengan sangat drastis, dan lain sebagainya. Berikut ini adalah salah satu jenis penyakit yang cukup ditakuti oleh para peternak yaitu penyakit ngorok.

Dalam bahasa ilmiah, penyakit ngorok juga dikenal dengan Septicemia apizootica (SE). Penyakit ini mampu membuat ternak mengalami kematian. Sifat dari penyakit ngorok atau Septicemia apizootica (SE) adalah akut. Ketika ternak sapi sudah menunjukkan terserang gejala penyakit ngorok atau Septicemia apizootica (SE), maka peternak harus segera memberikan penanganan secara dini. Apabila tidak, maka sapi akan mengalami kematian. Ternak disini tidak hanya ternak sapi saja, namun juga ternak kerbau, kambing, kuda, dan domba.

Penyebab dari penyakit ngorok atau Septicemia apizootica (SE) adalah karena adanya bakteri yang dikenal dengan Pasteurella Multcida. Apabila salah satu ternak sapi sudah terserang penyakit ini, maka ternak sapi ini harus dipisahkan dari ternak yang lain. Hal ini dikarenakan penyakit ini adalah salah satu jenis penyakit yang menular. Penularan penyakit ngorok atau Septicemia apizootica (SE) bisa lewat kontak langsung, adanya kontaminasi bakteri pada makanan, minuman, dan berbagai macam alat peternakan.

Gejala dari ternak sapi yang terserang penyakit ngorok atau Septicemia apizootica (SE) adalah

  1. tubuh ternak menjadi sangat gemetar
  2. mengalami demam yang sangat tinggi sehingga ternak sapi terlihat lesu dan lelah
  3. adanya pembengkakan di beberapa bagian tertentu seperti tenggorokan, kepala, kaki, leher, dan bawah gelambir
  4. Kotoran ternak atau feses akan menjadi sedikit cair. Tidak hanya itu, seringkali feses juga disertai dengan darah.
  5. Ternak menjadi sulit bernapas ketika adanya pembengkakan pada beberapa bagian tubuh tersebut. Ketika ternak mengalami kesulitan untuk bernapas, maka suara napasnya akan terdengar seperti ngorok. Inilah yang menyebabkan penyakit ini disebut penyakit ngorok atau Septicemia apizootica (SE).

Pengobatan dan pencegahan yang bisa dilakukan terhadap penyakit ngorok atau Septicemia apizootica (SE) adalah

  1. Menghubungi dokter hewan atau petugas peternakan apabila ditemukan adanya ternak sapi yang mengalami gejala ini.
  2. Memisahakn ternak yang sehat dari ternak yang sakit. Dengan begitu, gejala oenyakit ngorok atau Septicemia apizootica (SE) tidak akan menyebar ke ternak yang masih sehat.
  3. Melakukan vaksinasi dengan teratur pada ternak sapi
  4. Memberikan antibiotik dan obat dengan dosis tertentu agar ternak bisa cepat sembuh
Berbagai sumber.

Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis Pada Ternak

BhumiAndhini.com Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis atau yang bisa disingkat dengan IBR menajdi salah satu penyakit pada ternak sapi yang bisa menular. Penyakit yang satu ini membuat sistem reproduksi sapi jadi terganggu. Infeksi diduga menjadi dalang dari penyakit yang satu ini. Apabila ternak sapi terkena Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis, maka ternak akan mengalami penurunan fertilitas, kemajiran ternak, dan keguguran. Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis disebabkan oleh Bovine herpesvirus-1 (BHV-1). Ada berbagai macam gejala yang muncul apabila sapi terserang penyakit yang satu ini seperti ensefalitis, konjungtivitis, lesu, dan demam. Gejala ini muncul pada sapi jantan. Sedangkan pada sapi betina, maka akan mengalami keguguran, menurunnya tingkat fertilitas, dan penurunan produksi susu.

Biasanya ternak sudah menunjukkan gejala terkena Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis. Apabila gejala ini ditindaklanjuti dengan lebih awal dan lebih cepat, maka ternak bisa sembuh dari Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis. Sayangnya, banyak peternak yang sering mengabaikan gejala – gejala tersebut. Mereka menganggap bahwa itu hanya penyakit biasa. Gejala pada umumnya yang menunjukkan bahwa ternak sapi menderita Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis adalah adanya gangguan pada sistem pernapasan. Ternak akan sering mengalami batuk – batuk, demam dengan suhu yang sangat tinggi bahkan mencapai 42 derajat celcius, produksi susu mengalami penurunan, berat badan sapi menurun drastis, dan terjadinya aborsi. Ketika sapi sudah sakit, biasanya mereka enggan untuk makan. Apabila peternak tidak meninjau lebih lanjut akan hal ini, tentu saja menjadi hal yang sangat berbahaya. Sapi tidak akan memiliki tenaga untuk melawan Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis.

Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis merupakan salah satu jenis penyakit yang menular. Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis bisa ditularkan lewat saluran pernapasan dan semen. Virus penyakit ini terletak sangat banyak pada saluran pernapasan. Apabila ternak sapi yang sudah terkena Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis mengalami kontak langsung dengan ternak sapi yang sehat, bisa dipastikan ternak sapi yang sehat ini akan tertular. Apabila peternak membuka peternakan penggemukan sapi, maka penyebaran virus akan semakin cepat terjadi. Hal ini dikarenakan pada kandang sapi penggemukan, badan ternak sapi satu sama lain akan bersenggolan. Tidak hanya itu, ternak juga bercampur menjadi satu. Inilah yang membuat penyebaran virus menjadi lebih efektif pada ternak sapi penggemukan.

Diagnosis Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis bisa dilakukan dengan beberapa teknik. Seperti Uji serologi, isolasi virus, teknik immunoassay, dan teknik molekuler biologi. Peternak bebas memilih teknik yang akan digunakan untuk mendeteksi Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis.

Untuk cara pencegahan yang bisa dilakukan agar ternak sapi tidak terkena Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis adalah dengan melakukan vaksinasi pada ternak sapi. Berikan vaksin setiap satu tahun sekali. Sedangkan untuk mengobati ternak sapi yang sudah terinfeksi Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis adalah dengan memberikanvitamin, cairan elektrolit, dan antibiotika spectrum luas.

Berbagai sumber.

Penyakit Bovine Viral Diarreha Pada Ternak Sapi

BhumiAndhini.com Memiliki ternak sapi yang sehat tentu menjadi idaman para peternak di dunia. Apalagi jika sapi tersebut merupakan sapi yang produktif. Peternak tidak perlu mengeluarkan biaya lebih untuk melakukan pengobatan bagi sapi yang sakit. Tidak hanya itu, pemasukan juga tidak akan terganggu apabila seluruh ternaknya memiliki kondisi yang sehat dan produktif. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa di dunia ini terdapat berbagai macam bakteri dan virus yang ada di sekitar ternak. Ada yang bisa langsung mati dengan diberi obat, namun ada juga yang harus diberi berbagai macam asupan dan perlakuan agar bakteri dan virus tersebut bisa mati.

Ada berbagai macam penyakit yang mengancam kesehatan ternak sapi. Salah satunya adalah penyakit Bovine Viral Diarreha (BVD). Penyakit yang satu ini merupakan salah satu penyakit yang dihindari peternak, karena menyerang sapi yang berusia produktif atau sapi muda. Berikut ini adalah berbagai gejala yang dialami oleh ternak sapi yang terserang Bovine Viral Diarreha (BVD).

Sapi yang terserang Bovine Viral Diarreha (BVD) akan mengalami demam dengan suhu yang sangat tinggi, adanya cairan disekitar hidung dan mulut yang berwarna putih, sapi terlihat sangat lemah sehingga tidak mampu melakukan apapun, depresi, adanya penurunan berat badan yang sangat signifikan pada sapi potong, pernapasan menjadi tidak teratur, denyut jantung menjadi meningkat, apabila menyerang sapi yang hamil maka akan terjadi aborsi, apabila menyerang sapi perah maka produksi susu akan berkurang, adanya kerusakan jaringan pada sapi, ternak terkena diare diikuti bau yang sangat busuk, kotoran bercampur darah, dan apabila sudah sangat parah maka akan membawa sapi pada kematian.

Bisa dikatakan gejala yang muncul pada sapi yang terserang Bovine Viral Diarreha (BVD) harus diwaspadai. Karena, ada beberapa gejala yang menyerupai dengan gejala penyakit lainnya. Apabila ternak salah didiagnosa, maka pengobatan yang diberikan juga tidak akan sesuai. Apabila pengobatan yang diberikan tidak sesuai dengan penyakit yang diderita oleh sapi, maka akan membuat ternak sapi mengalami kematian. Pencegahan dan pengobatan bisa dilakukan bagi sapi yang belum terkena Bovine Viral Diarreha (BVD) maupun sapi yang sudah terkena Bovine Viral Diarreha (BVD).

Penyakit Bovine Viral Diarreha (BVD) merupakan salah satu penyakit yang diakibatkan oleh virus. Hal inilah yang membuat pengobatan hanya memiliki sifat supportif untuk meminimalisir gejala klinis. Sapi yang sudah terserang penyakit Bovine Viral Diarreha (BVD) harus diberi vaksin indaktif setiap satu tahun sekali.

Pencegahan yang bisa dilakukan untuk sapi yang belum terserang penyakit Bovine Viral Diarreha (BVD) adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan serta pangan pada ternak sapi. Ini akan meminimalisir penyebaran virus yang membuat ternak sapi menderita penyakit Bovine Viral Diarreha (BVD).

Berbagai sumber.

Pelatihan Bisnis Sapi Potong Batch #10

Mengapa bisnis penggemukan sapi potong ?
Berbisnis sapi potong di indonesia ini peluangnya sangat besar.
 
Mengapa ? Karena seperti yang kita ketahui, setiap tahun indonesia mengimport baik itu bibit sapi maupun daging sapinya. Data menunjukan di tahun 2014 konsumsi sapi potong di indonesia pertahun adalah 3,2 jt ekor sementara dari sapi lokal hanya bisa memenuhi 2jt ekor sapi saja. Berarti ada kekurangan pasokan sapi potong sebesar 1,2 jt ekor, hal tersebut merupakan peluang yang sangat bagus untuk bisnis sapi potong ini. 
Bagaimana cara memulai bisnis sapi potong ?
Hal pertama yang sangat perlu diperhatikan adalah tentang ilmunya atau dengan kata lain SDMnya. kalau kita sudah tau ilmu bagaimana menggemukan sapi potong ini, Insya Allah bisnis ini akan berjalan profesional dan tentunya menguntungkan. Bagi para calon peternak ataupun yang sudah mempunyai peternakan, meningkatkan SDM dan menambah ilmu ini sangat penting karena berkaitan dengan nilai keekonomian dari bisnis ini. Seandainya bisnis ini menguntungkan, ini akan jadi motivasi bagi para peternak atau calon peternak untuk mengembangkan bisnis peternakannya.
 
Kenapa di BHUMI ANDHINI FARM and EDUCATION ?
Bhumi Andhini Farm and Education sudah mempunyai pengalaman selama 30 Tahun di bisnis ini, tidak hanya di penggemukan tapi industri sapi potong. Baik dari mulai pembibitan, penggemukan, pemotongan, pengolahan daging, distribusi daging bahkan sampai produk kerajinan yaitu mengolah kulit sapi (Rayya Stories​) yang mempunyai nilai ekonomis tersendiri. 
 
Ketika anda mengikuti pelatihan di BAFE, anda akan mendapatkan ilmu budidaya industri sapi potong secara keseluruhan. Harapan kami anda bisa menjadi peternak yang profesional sehingga hasilnya nanti akan bisa menambah jumlah populasi sapi potong yang pada akhirnya bisa mewujudkan indonesia yang swasembada sapi potong.

Pelatihan yang telah kami selenggarakan, bisa anda lihat di gallery video kami atau bisa klik channel YouTube BAFE disini.


 

Sampai bertemu di Pelatihan Bisnis Sapi Potong Batch #10, mari terhubung dengan alumni pelatihan BAFE dari seluruh indonesia yang kami kumpulkan dalam satu group khusus. Disana anda bisa diskusi langsung dengan manajemen BAFE maupun dengan alumni pelatihan BAFE yang telah mempunyai peternakan serta yang akan membuka peternakan.

Bersama BAFE, jadikan peternakanmu lebih dari istimewa.


Penyakit Brucellosis Yang Menyerang Sapi

Bagi para peternak yang memelihara sapi bunting atau sapi indukan, pasti berharap agar anak sapi bisa lahir dengan normal dan sehat. Tidak ada peternak yang mengharapkan anak sapi lahir dengan lemah akibat terserang suatu penyakit. Saat ini, penyakit yang memiliki keterkaitan dengan sapi bunting ialah Penyakit Brucellosis atau keguguran pada sapi.

Penyakit Brucellosis disebabkan oleh bakteri Brucella. Bakteri ini sebenarnya bisa terbunuh hanya dengan terpapar sinar matahari. Namun, apabila sapi jarang atau tidak pernah dijemur, maka bakteri Brucella ini akan bertahan selama enam bulan lamannya.

Berbagai gejala dari Penyakit Brucellosis ialah keguguran pada sapi betina, adanya pembengkakan pada scrotum untuk sapi jantan, nafsu makan yang berubah drastis, dan beberapa gejala lain yang tidak terlihat mencolok. Anak sapi yang gugur biasanya akan mati dan memiliki warna biru kecokelatan. Sedangkan anak sapi yang berhasil lahir akan tetap hidup. Hanya saja, mereka tidak berkembang dengan baik seperti anak sapi normal pada umumnya.

Penyakit ini rupanya bisa menular pada manusia. Apabila Anda mengkonsumsi berbagai produk hewan sapi yang terjangkit Penyakit Brucellosis, maka Anda juga akan terkena penyakit yang satu ini. Untuk kaum pria, maka akan mengakibatkan radang testis, kemandulan, dan radang sendi. Sedangkan untuk kaum wanita akan mengakibatkan abortus.

Untuk penularan pada sesama ternak, lewat perkawinan. Ada beberapa sapi yang tidak akan menunjukkan gejala – gejala jika terkena Penyakit Brucellosis. Inilah yang membuat para peternak dengan mudah mengawinkan sapi yang sudah terinfeksi Penyakit Brucellosis dengan sapi yang sehat. Sumber infeksi Penyakit Brucellosis pada sapi ialah cairan fetus. Cairan ini merupakan cairan sisa sapi betina setelah melahirkan. Bakteri akan masuk ke dalam sapi lewat kulit yang sudah terluka, oral, kongenital, dan inhalasi.

Ada berbagai pencegahan yang bisa dilakukan agar ternak tidak terkena Penyakit Brucellosis. Berikut ini adalah tipsnya:

  1. Memilih produk hewani yang benar – benar terjamin kualitasnya dan higienis. Misalnya susu yang sudah dipasteurisasi. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir kemungkinan bakteri jahat masuk dalam tubuh konsumen.
  2. Memisahkan ternak yang sudah terserang Penyakit Brucellosis dengan ternak yang sehat. Apabila ada kejadian fetus, membran fetus, dan abortus, maka peternak harus mengirim sapi pada laboratorium. Selanjutnya, semua peralatan yang sudah digunakan untuk sapi yang terserang Penyakit Brucellosis harus dibakar dan dimusnahkan. Sedangkan tempat yang sudah terkena Penyakit Brucellosis, harrus didesinfeksi.
  3. Memberikan vaksin pada mereka yang rawan tertular Penyakit Brucellosis, seperti pekerja RPH, peternak, bahkan dokter hewan. Penyakit Brucellosis tidak memandang jenis pekerjaan seseorang.
Berbagai sumber.